Tantangan Pendidikan kepada Era Globalisasi

Tantangan Pendidikan kepada Era Globalisasi

Oleh:

Khairul Azan

(Dosen STAIN Bengkalis & Ketua DPD GAMa Riau Kabupaten Bengkalis)

Globalisasi adalah sesuatu nir sanggup terlepaskan dalam perkembangan zaman ketika ini. Meskipun nir muncul pengertian yg tunggal dalam mengungkapkan apa itu globalisai akan tetapi paling nir secara terminologi istilah globalisasi sanggup diartikan menjadi sebuah proses yg populer diseluruh dunia. Kata globalisasi berawal asal istilah globeyang artinya mayapada dan mayapada berarti sedunia.

Dari pandangan kepada atas sanggup dipahami secara sederhana globalisasi ialah era tanpa batas yg ditandai beserta perubahan struktur sosial dimasyarakat.  Perubahan tadi terlihat asal tingginya keterkaitan antara rakyat dan elemen-elemen yg terjadi akibat trankulturasi melalui perkembangan teknologi dan komunikasi yg begitu cepat. Arus globalisasi jua dimaknai menjadi gerakan populer diseluruh dunia yg menghipnotis pembentukan sistem dan nilai-nilai kehidupan yg mau nir mau itu wajib dihadapi.

Menurut Ulrich Beck dalam Sindhunata (2003) muncul 3 fokus menjadi istilah kunci dalam memahami globalisasi antara lain yaitu: 1) Deteritorialisasi yg berarti batas -- batas geografi ditiadakan atau nir lagi berperan dan nir lagi menentukan dalam perdagangan antarnegara, 2) Transnasionalisme ialah mentiadakan batas - batas geografis mirip blok - blok, 3) Mutilokal dan translokal, dimana globalisasi menyampaikan kesempatan bagi insan kepada aneka macam belahan mayapada membuka horison hidupnya seluas mayapada, tanpa kehilangan kelokalannya.

Berangkat asal klarifikasi kepada atas tentunya globalisasi adalah keniscyaan yg tidak terhelakkan bagi yg mengharapkan sebuah kemajuan. Kehadiran globalisasi menutut perubahan yg fundamental bagi setiap individu dalam memandang arus globalisasi menjadi sesuatu keseharusan bukan menjadi ancaman. Dalam menjawab tantangan globalisasi maka dibutuhkan asal daya insan yg berkarakter handal dan berdaya saing tinggi. Untuk mewujudkannya maka disinilah pendidikan wajib menampilkan diri menjadi bagian asal tantangan globalisasi tadi. Pendidikan ditantang wajib sanggup mendidik dan menciptakan para lulusan yg berdaya saing tinggi (qualified) bukan justru kebalikannya mandul dalam menghadapi gempuran aneka macam kemajuan dinamika globalisasi tadi.

Kehadiran globalisasi adalah tantangan akbar bagi mayapada pendidikan. Beberapa tantangan tadi dari Khaerudin Kurniawan (1999) antara lain ialah: Pertama, tantangan buat menaikkan nilai tambah, yaitu bagaimana menaikkan produktivitas kerja nasional dan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, menjadi upaya buat memelihara dan menaikkan pembangunan berkelanjutan (continuing development).

Kedua, tantangan buat melakukan riset secara komprehensif terhadap terjadinya era reformasi dan transformasi struktur rakyat, asal rakyat tradisional-agraris ke rakyat mutakhir-industrial dan isu-komunikasi, dan bagaimana implikasinya bagi peningkatan dan pengembangan kualitas kehidupan SDM. Ketiga, tantangan dalam persaingan mayapada yg semakin ketat, yaitu menaikkan daya saing bangsa dalam menciptakan karya-karya kreatif yg berkualitas menjadi output pemikiran, inovasi dan dominasi ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Keempat, tantangan terhadap keluarnya pencaplokan dan kolonialisme baru kepada bidang Iptek, yg menggantikan pencaplokan dan kolonialisme kepada bidang politik dan ekonomi.

Sekolah menjadi forum pendidikan dituntut wajib sanggup mencetak generasi yg berkualitas didasarkan  beserta beberapa tantangan globalisasi kepada atas. Lembaga pendidikan wajib sanggup menyiapkan lulusan yg siap terjun dan bersaing beserta energi kerja asing yg telah memasuki pasar mayapada ketika ini. Ketika ini sanggup diwujudkan maka nomor pengangguran terdidik yg terjadi ketika ini sanggup ditekan secara berangsur-angsur.

Pembenahan orientasi dan sistem pendidikan perlu diurai secara berfokus. Ada beberapa aspek yg menjadi fokus garapan pendidikan ketika ini antara lain ialah: 1) Pendidikan hendaknya diarahkan kepada proses pembentukan skill (keterampilan) yg tinggi bagi anak didik. Oleh karenanya dalam proses pembelajaran yg dilakukan dibutuhkan ekuilibrium pembelajaran berbasis teori dan praktek. 2) Proses pembelajaran hendaknya mengedepankan pembelajaran berbasis anak didik (student centre oriented).

Dengan pembelajaran mirip ini diharapkan  anak didik menjadi sanggup berdiri diatas kaki sendiri menjadi bekalnya dikemudian hari. 3) Peningkatan kapasitas dan kemampuan pendidik wajib menjadi priotas utama. Upaya tadi berupa peluang yg diberikan dan memfasilitasi para pendidik buat menambah dan menyebarkan keilmuan mereka lewat studi lanjut, training, workshop dan lain-lain. 4) Proses pendidikan jua seharusnya diarahkan kepada hibahmotivasi bagi anak didik dalam menggapai mimpinya beserta mengedepankan proses bukan output yg serba instan. lima) Perlu adanya pencerahan asal seluruh pihak mengenai tanggungjawab pendidikan. Kooperatif asal orang tua, rakyat, pemerintah dan mayapada kerja menjadi stakeholderspendidikan sangatlah dibutuhkan.

0 Response to "Tantangan Pendidikan kepada Era Globalisasi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel