Seberapa Pentingkah Nilai kepada Proses Pendidikan

Seberapa Pentingkah Nilai dalam Proses Pendidikan

Dalam sebuah proses pendidikan, muncul suatu baku yg digunakan buat dijadikan parameter atau indikator buat mengukur sejauh mana sasaran pendidikan dicapai. Standar itulah yg biasa kita sebut bareng 'nilai'. Menjadikan nilai menjadi tolak ukur yg dipercaya bisa "mewakilkan" taraf pemahaman seseorang terhadap suatu ilmu, selalu menjadi pembahasan yg menarik, bahkan terkadang menjadi perdebatan.

Ada yg berpandangan bahwa nilai nir bisa dijadikan tolak ukur primer dalam menentukan apakah seseorang paham atau nir suatu ilmu. Karena buat menilai pehamaman seseorang dibutuhkan indikator-indikator lain, nir hanya sebatas dalam sebuah nomor atau alfabet dalam selembar kertas ujian.

Ada jua yg berpandangan bahwa nilai dalam secarik kertas tidaklah mendeskripsikan karakter positif yg dimiliki oleh pemilik nilai. Pandangan ini memandang bahwa karakter positiflah yg adalah goals sumber pendidikan, nir hanya sebuah nilai, yg penilaiannya cenderung parsial.

Ada jua yg memandang bahwa nilai ialah segalanya. Pandangan ini berdasarkanpada pandangan rakyat awam yg lebih menghargai & menitikberatkan nilai, bahwa nilai adalah indikakor kesuksesan seseorang penuntut ilmu.

Saya berlepas diri terhadap apa pun pandangan Enda terhadap nilai. Namun izinkanlah aku sedikit bercerita wacana pandangan aku mengenai nilai.

Kemarin, gerombolan seketika ramai menyebutkan nilai yg sudah keluar. Nilai yg sudah final diberikan dosen, & terlampir dalam web spesifik isu nilai mahasiswa.

Respons mereka sesudah melihat nilai macam-macam. Ada yg suka penuh syukur, alasannya adalah nilai yg didapat memuaskan. Ada jua yg biasa saja, tidak ambil pusing wacana nilai. Ada jua yg sedikit merogoh pikiran berlebih terhadap nilai yg didapatnya, alasannya adalah ragu melaporkannya kepada orangtua. Bermacam-macam.

Saya sendiri mengarah mengombinasikan seluruh respons itu. Bersyukur alasannya adalah masih bisa nilai, nilai yg tidak mungkin mengecewakan diri sendiri, alasannya adalah mungkin itulah imbas kerja aku. Rasanya gak perlu ambil pusing jua, toh bepergian usaha masih panjang, terdapat kesempatan memperbaiki & menyempurnakan yg kurang. Sedikit berpikir lebih jua dia, berpikir bagaimana caranya dalam kesempatan selanjutnya bisa lebih baik.

Saya menghargai & mengangkat topi dengan tinggi-tingginya kepada Enda yg memandang bahwa nilai tinggi itu perlu & krusial. Sebagai wujud pertanggungjawaban kita menjadi insan yg sudah menginjakkan kaki dalam bangku sekolah atau perkuliahan. Saya sependapat bareng Enda, alasannya adalah satu dari prinsip aku jua begitu.

Namun aku jua terkadang berpandangan bahwa nilai itu nir begitu krusial buat kehidupan. Daya juang buat mendapatkan nilai tinggi tidak akan sebanding bareng usaha kita melawan arus & menerjang badai lika-liku kehidupan. Karena itu, kadang aku merasa ilmu kehidupan jauh lebih krusial daripada ilmu mata kuliah.

Sebenarnya, apa pun pandangan kita terhadap urgensi nilai dalam sebuah proses pendidikan, kehidupan bersekolah & berkuliah akan terus berlanjut. Dan waktu kita mengarah buat duduk dalam bangku sekolah atau kuliah, seketika tanggungjawab menjadi insan intelektual jatuh dalam diri kita. Yang tanggungjawab tadi wajib diwujudkan & dibuat dalam keseharian.

Ketika Enda mengarah mengeyam pendidikan dalam bangku perguruan tinggi, sudah menjadi konsekuensi bahwa Enda wajib mendapatkan & memperjuangkan nilai yg tinggi.

Ada sebuah persepsi yg wajib diluruskan. Bahwa setiap aspek evaluasi pendidikan itu nir bisa diurai satu per satu. Karakter positif, nilai yg tinggi, & kemampuan menjadi satu paket yg wajib dimiliki setiap peserta didik atau mahasiswa. Dalam bahasa lainnya kognitif, afektif, & psikomotorik.

Adalah sebuah kekeliruan jikalau kita menitikberatkan dalam satu dari aspek saja. Misal afektif. Kita memandang karakter ialah yg terpenting & terutama, sedangkan kognitif (nilai) nir begitu krusial.

Ketiga aspek tadi menjadi kesatuan yg utuh yg wajib dimiliki setiap orang yg bersekolah atau berkuliah. Ketiganya wajib menjadi penekanan primer, tanpa memilah & memandang satu dari lebih krusial.

Hidup ini wajib ideal, & proporsional. Semua wajib ditempatkan secara pasti. Termasuk menempatkan & memosisikan nilai dalam proses pendidikan kita. Janganlah kita terlalu acuh menjadi akibatnya abai terhadap apa yg sudah menjadi tanggungjawab kita. Jangan jua terlalu hiperbola, mengira nilai menjadi tuhan kehidupan.

0 Response to "Seberapa Pentingkah Nilai kepada Proses Pendidikan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel