Potret pendidikan Pulau Maratua, peserta didik & pengajar jadi tukang demi ruang kelas baru

Potret pendidikan Pulau Maratua, peserta didik & pengajar jadi tukang demi ruang kelas baru

Potret pendidikan tiba berdasarkan Pulau Maratua, galat satu pulau terluar dalam Berau, Kalimantan Timur. Tepatnya berdasarkan SMA Negeri 9, satu-satunya sekolah menengah atas dalam pulau itu. Siswanya rela ikut menjadi tukang bangunan demi memiliki ruang belajar baru yg memang sangat dibutuhkan buat kelancaran aktivitas belajar mengajar. Sumber dananya berasal berdasarkan sumbangan orang tua peserta didik, pengajar dan jua warga dalam 4 kampung dalam Maratua.

BERITA TERKAIT
Universitas asing masuk Indonesia, Menristekdikti konfiden 'Mercy tidak akan gusur Avanza'
Tak indahkan panggilan karena awasi ujian, pengajar dalam Bengkulu dibogem kepala sekolah
UIN Yogyakarta akan mendata dan membina mahasiswi bercadar

Siswa dan pengajar dalam sekolah itu wajib bahu membahu, mewujudkan mimpi memiliki ruang kelas baru. Mereka rela gotong royong, bahu membahu mengangkat kayu dan bahan bangunan lain buat kebutuhan bangunan sekolah. Mereka tidak menghiraukan jikalau seragam mereka menjadi kotor.

SMA 9 hanya memiliki tiga ruang kelas yg diperuntukan bagi 100 peserta didik. Dengan begitu, satu ruang kelas terpaksa dijejali 60 peserta didik. Kondisi belajar misalnya itu, dirasa nir efektif dan tidak nyaman. Karena itu kebutuhan ruang belajar baru sudah sangat mendesak dan tidak hiperbola.

Baik pihak SMAN 9 Maratua, warga dan pengurus kecamatan sudah berulang kali menyuarakan kebutuhan itu. Mereka wajib mengelus dada karena ketiadaan respons berdasarkan pemangku kebijakan.

"Bahkan, ini sudah kami sampaikan permintaan, hingga ke pemerintah sentra," istilah pengajar mata pelajaran Agama Islam dalam SMAN 9 Maratua, Muhammad Rifai, dalam perbincangan bareng merdeka.com, Selasa (12/9) petang.

Warga dalam 4 kampung yakni Teluk Harapan, Bohesilian, Teluk Alulu dan Payung-Payung, bersemangat menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang SMA. Satu-satunya asa mereka hanyalah SMAN 9. Sebab, nir mungkin menyekolahkan anak mereka ke bunda kota Berau dalam Tanjung Redeb. Alasannya, jeda yg terlampau jauh. Butuh 10 jam bepergian bahari menggunakan memakai speedboat. Penghasilan warga kampung yg homogen-homogen menjadi nelayan nir memungkinkan menyekolahkan anak mereka hingga ke Tanjung Redeb.

Kebutuhan ruang belajar baru, nir bisa ditawar lagi. Dalam rendezvous Kepala SMAN 1, pengajar dan komite sekolah, menggunakan warga 4 kampung dalam Maratua belum usang ini, diputuskan menambah ruang belajar baru meski tanpa dukungan dana pemerintah. Padahal, pemerintah bertanggungjawab menyediakan fasilitas pendidikan, didasarkan  amanat undang-undang.

"Uang yg dikumpulkan, baru beberapa saja. Jadi, kami berinisiatif membuat ruang belajar baru, meski konstruksi kayu," ujar Rifai.

Tahap awal pembangunan, mereka wajib mencari kayu dalam hutan Pulau Maratua buat bahan dasar konstruksi. Pencarian kayu dilakukan bareng-sama. Siswa pun bersuka cita menjadi tukang bangunan dadakan, meski masih mengenakan seragam.

"Jumat (8/9) kemarin, kayu kita dapatkan berdasarkan hutan, diangkut pakai tunggangan beroda empat pikap. Siswa ikut menukangi, demi ruang belajar baru," sebut Rifai.

Dengan bunyi lirih, Rifai berkata harapannya. Dia berharap muncul tambahan pengajar buat mendidik anak-anak dalam pulau yg berbatasan menggunakan negara tetangga itu.

"Tolong pemerintah, memperhatikan fasilitas pendidikan kepada kami, dalam Maratua. Jangan hanya pembangunan infrastruktur," ucap Rifai. [noe]

0 Response to "Potret pendidikan Pulau Maratua, peserta didik & pengajar jadi tukang demi ruang kelas baru"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel