Plagiarisme, Tragedi Pendidikan Kita

Plagiarisme, Tragedi Pendidikan Kita

SEORANG calon pengajar akbar Univesitas Lampung (Unila) sebelumnya disebutkan 2, namun kemudian diralat hanya satudiindikasikan melakukan plagiat (Lampung Post, 9-10 Maret 2012). Sungguh ini tragedi yang memalukan dalam tradisi akademik perguruan tinggi. Wajar saja kalau Rektor Unila Sugeng P. Harianto berkata akan bertindak tegas terhadap calon pengajar akbar yang terbukti menyontek karya ilmiah orang lain: dibatalkan menjadi pengajar akbar!

Peristiwa ini belum lama berselang menurut kehebohan plagiat 3 dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Ketiganya, nama mereka nir disebutkan, tepergok menyontek naskah untuk promosi menjadi pengajar akbar. Berdasar keputusan senat UPI, meskipun nir dipecat, ketiga dosen diberi hukuman penurunan pangkat & jabatan, serta pembatalan promosi pengajar akbar mereka.

Kalau melihat perkara-perkara tadi, agaknya plagiarisme sebenarnya seperti puncak gunung es yang semakin lama semakin terbuka boroknya. Nyaris semua perguruan tinggi terkait beserta plagiat pengajar besarnya. Lihat saja daftar 21 perguruan tinggi yang dianggap Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan & Kebudayaan tersangkut praktek plagiarisme sang (calon) pengajar akbar: Unhas, Unand, UI, Unibraw, & Unila. Berikutnya, Universitas Jambi, Unpad, Universitas Mataram, UNS, Unsamrat, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Universitas Udayana, & USU. Lalu, Unipatti, Universitas Negeri Gorontalo, Unimed, Universitas Negeri Makassar, UPI, Universitas Negeri Surabaya, ITS, & IPDN.

Tragedi Memalukan

Kasus plagiarisme (penjiplakan karangan) sang pengajar akbar ialah tamparan bagi global pendidikan Indonesia. Jangankan sang pengajar akbar yang menjadi anutan tertinggi kepada global pendidikan, tindakan plagiarisme ialah hal terlarang & terkutuk dalam global kreatif (tulis-menulis misalnya). Koran misalnya, segera saja memasukkan ke daftar blacklist begitu seorang penulis diketahui melakukan plagiasi. Hal ini tidak mampu ditawar alasannya orisinalitas & kejujuran menjadi unsur terpenting dalam jagad intelektualitas.

Betapa gegernya ketika diketahui artikel Banyu Perwita, seorang pengajar akbar kepada Universitas Katolik Parahyangan, Jawa Barat, berjudul RI's defense tranformation yang diterbitkan kepada The Jakarta Post, 14 Juni 2009, ternyata yang akan terjadi plagiat karya Richard A. Bitzinger yang berjudul Defense Transformasion and The Asia Pacific: Implication for regional Millitaries, yang diterbitkan kepada Asia-Pacific Center for The Security Studies Volume 3No.7, Oktober 2004.

Sebelum 2000, betapa populernya Ipong S. Azhar sebagai kolumnis kepada aneka macam media. Namun, perkara plagiarisme disertasinya menghancurkan semuanya dalam sekejap. Senat Universitas Gadjah Mada (UGM) akhirnya membatalkan gelar doktor Ipong S. Azhar. Disertasi Ipong ini mulai menjadi masalah setelah diterbitkan dalam bentuk kitab berjudul Radikalisme Petani Masa Orde Baru: Kasus Sengketa Tanah Jenggawah kepada pertengahan 1999. Mochammad Nurhasim, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terkejut setelah membaca bab demi bab kitab itu, alasannya isinya sama beserta skripsinya. Ia kemudian menulis surat ke Senat UGM, sekaligus mengirim salinan skripsinya. Ia pula menghasilkan surat terbuka ke aneka macam media massa. Intinya, dia menuduh Ipong melakukan plagiat & mendesak agar gelar doktor kolumnis itu dicabut. Dan, keputusan final sudah dijatuhkan kepada 25 Maret 2000 dalam Forum Rapat Senat UGM yang dipimpin Ichlasul Amal, rektor UGM, & dihadiri 102 anggota senat. Gelar doktornya dibatalkan.

Jalan Pintas

Dalam ilmu pengetahuan terdapat aspek-aspek etika yang kalau diterapkan mampu membuat eksklusif-eksklusif yang amanah, disiplin, bertanggung jawab, & sportif. Dengan mengetahui aspek etika dalam sains, & mengajarkannya kepada peserta didik mampu membantu membuat kepribadian. Bukankah mengusut ilmu pengetahuan ialah sebuah upaya untuk keluar menurut ketidaktahuan, kebingungan, & ketersesatan pikiran & sebagai bentuk menurut pencarian menurut kebenaran? Sementara perguruan tinggi terlebih pengajar besarjelas ialah institusi vital yang menjunjung tinggi tradisi akademik, budaya intelektualitas? Bukankah tradisi akademik & budaya intelektual itu senantiasa berpegang teguh kepada nilai-nilai kejujuran & kebenaran?

Dalam satu dasawarsa terakhir ini, kita sudah babak belur sang beberapa perkara korupsi yang yang melanda negeri ini. Dan, kini kita pun menyaksikan betapa sudah terjadi pula pembohongan publik & korupsi intelektual menurut kalangan perguruan tinggi. Padahal, perguruan tinggi selama ini masih ditinjau sebagai institusi yang paling berkompeten saat berbicara soal kebenaran yang tercermin menurut ilmu pengetahuan yang digeluti, tradisi intelektual yang dijalankan sivitas akademika, & semangat membela nilai-nilai obyektivitas yang memancar menurut kampus.

Penipuan saintifik (scientific fraud), yaitu bisnis untuk memanipulasi keterangan atau menerbitkan yang akan terjadi kerja orang lain secara sengaja terperinci ganggu nilai-nilai objektivitas. Ilmuwan yang objektif & melaporkan yang akan terjadi pengamatan secara lengkap & amanah tentu akan menghasilkan sains yang ideal. Selain itu, berguna bagi masyarakat bila yang akan terjadi penelitiannya (karya ilmiahnya) diimplementasikan.

Tapi, apa yang hendak dikatakan jikalau akademisi tanpa rasa malu & mengambil jalan pintas mengaku karya ilmiah orang lain sebagai karya sendiri? Apa lacur ilmuwan jikalau lebih senang memalsukan karya ilmiah ketimbang melakukan riset beserta betul, amanah, & objektif. Sebuah tragedi tidak berdarah yang memukul peradaban sebuah bangsa ke titik nadir, aku kira. n

0 Response to "Plagiarisme, Tragedi Pendidikan Kita"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel