Penguatan Pendidikan Karakter Tak Melulu Soal Akademis

Penguatan Pendidikan Karakter Tak Melulu Soal Akademis

KOMPAS.com - Usai ujian akhir semester, Martin seseorang guru mata pelajaran sibuk menyiapkan nilai para siswanya. Selain nilai akademis, ia memberi penilaian terkait pencapaian non-akademis para siswa pada sekolah.

Lembaga pendidikan tempat ia mengampu pada Jakarta Selatan memang mengadaptasi kurikulum pelajaran internasional. Penilaian seseorang siswa pada sekolah itu dilakukan tak semata sinkron nilai akademis.

Sejalan beserta penerapan program Penguatan Pendidikan Karakter, para guru pada seluruh sekolah pada Indonesia pun akan melakukan hal serupa.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Kementerian Pendidikan & Kebudayaan hingga sekarang masih menyiapkan Peraturan Menteri (Permen) terkait program itu.

Baca:  Jokowi: Perpres Pendidikan Karakter Bentengi Anak berasal Budaya Luar

Menurut Menteri Pendidikan & Kebudayaan Muhadjir Effendy, galat satu wujud nyata pendidikan karakter pada sekolah adalah beserta membuatkan minat & bakat siswa.

Oleh karenanya, Kementerian Pendidikan & Kebudayaan berencana mewajibkan seluruh sekolah menerbitkan rapor beserta nilai ganda yang bisa diterapkan mulai 2018.

Para guru nantinya akan memberi laporan nilai akademis & pengembangan kepribadian siswa.

"Rapor ini memaksa guru buat scouting, mencari minat & bakat berasal anak itu," kata Muhadjir dalam Forum Merdeka Barat 9 pada tempat kerja Kementerian Komunikasi & Informatika, Rabu (30/8/2017).

arsip Pendam IV Diponegoro Lomba paduan bunyi lagu-lagu nasional taraf pelajar distrik Mindiptana, Kabupaten Boven Digoel dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 yang digelar oleh Satgas Pamtas Yonif 405/Surya pada Sekolah Dasar (SD) Inpres Osso Kamka, Distrik Mindiptana, Kabupaten Boven Digoel Papua, Kamis (04/08/2017) siang.

Selama ini, seseorang siswa dianggap berprestasi pada sekolah bila nilai akademisnya gemilang. Pemerintah berharap sekolah, utamanya para guru, mulai menghilangkan penyeragaman itu.

Howard Gardner, seseorang profesor psikologi berasal Harvard University mengemukakan teori kecerdasan jamak (multiple intelligence).

Gardner mengidentifikasi sejumlah kecerdasan yakni musical/rhythmic intelligence bodily/kinesthetic intelligence, logical/mathematical intelligence, visual/spatial intelligence, verbal/linguistic intelligence, interpersonal intelligence, & intrapersonal intelligence. Dalam perkembangannya masih muncul satu jenis kecerdasan tambahan yakni naturalistic intelligence.

Pendidikan intinya adalah suatu proses pengembangan potensi individu. Melalui pendidikan, potensi yang dimiliki oleh individu akan diubah sebagai kompetensi.

Ribuan pelajar sebagai peserta pawai egrang dalam merayakan hari jadi Kabupaten Purwakarta, Jumat (19/8/2017) malam

Sementara, kompetensi mencerminkan kemampuan & kecakapan individu dalam melakukan suatu tugas atau pekerjaan.

Tugas pendidik atau guru dalam hal ini adalah memfasilitasi anak didik sebagai individu buat dapat membuatkan potensi yang dimikili tiap siswa sebagai kompetensi, sinkron beserta cita-citanya.

Oleh karenanya, proses pendidikan & pembelajaran yang berlangsung pada sekolah wajib berorientasi kepada invidu siswa.

Penerapan pendidikan karakter pula tak mesti dilakukan seluruh oleh sekolah apabila memiliki keterbatasan sumber daya. Sekolah bisa saja bekerja sama beserta lembaga lokal yang letaknya tak jauh berasal gedung pendidikan.

KOMPAS.com | wijaya kusuma anak-anak galat satu Sekolah Dasar dikala memainkan alat musik Gamelan

Misalnya, masih muncul sekolah yang dekat beserta tempat kursus tari, maka sekolah dapat memanfaatkan tempat kursus itu sebagai wadah membuatkan minat & bakat siswanya.

"Biar sekolah itu sebagai pusat belajar, & lingkungan sekitar dijadikan sumber-sumber belajar," ujar Muhadjir.

Baca: Pemerataan Pendidikan Siapkan SDM Berkarakter & Berdaya Saing

Demikian pula bila sekolah itu dekat beserta tempat latihan sepak bola, maka sekolah itu dapat membuatkan bakat bermain bola siswanya.

Muhadjir mengaku bermimpi Indonesia bisa memiliki  satu tim sepak bola yang berkualitas global berasal yang akan terjadi pencarian bakat siswa SD pada seluruh sekolah.

Siswa-siswa yang berbakat sepak bola mesti digembleng & diarahkan sinkron minat & bakatnya sejak dini.

"Kami akan buat recruitment & membibit para pemain bola mulai sejak SD. Saya konfiden kalau anak-anak itu belajar berasal mini, mendapatkan 11 pemain yang bisa mengalahkan Malaysia, Saya kira nir sulit," tuturnya.

KOMPAS.com/ Muhamad Syahri Romdhon Sejumlah peserta putra putri berasal wilayah Cirebon & sekitarnya mengikuti audisi awam beasiswa djarum bulutangkis 2017, pada GOR Stadion Bima, Kota Cirebon Sabtu (22/7/2017). Mereka yang terdiri berasal U 11 U 13 memperebutkan 12 tiket buat dapat melaju babak berikutnya pada Kudus September mendatang.

Prestasi non-akademik seperti ini diharapkan dapat sebagai portofolio siswa-siswi tersebut buat masuk ke perguruan tinggi maupun global kerja.

Dengan pendidikan karakter, setiap anak adalah istimewa, punya keunikan yang nir bisa disamaratakan," katanya.

0 Response to "Penguatan Pendidikan Karakter Tak Melulu Soal Akademis"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel