Pendidikan Karakter

Pendidikan Karakter

Oleh Dony Kleden

Pendidikan menjadi simpul dari perubahan habitus. Dengan berkata demikian, kita telah menempatkan pendidikan pada posisi yang sangat mulia bagi pembentukan dan perkembangan kepribadian.

Ini menjadi tujuan awam dari apa pun bentuk pendidikan yang diselenggarakan. Pertanyaan timbul: bagaimana kita mampu mendesain pendidikan kita sehingga yang namanya mutu pendidikan dan perkembangan dan pertumbuhan kepribadian itu betul-betul mampu dicapai?

Politik pendidikan

Politik pendidikan pada Indonesia cenderung berorientasi pada kuantitas ketimbang kualitas. Indonesia telah beberapa kali menerima penghargaan alasannya adalah kampiun pada Olimpiade Fisika dan Matematika. Kita begitu berbangga, tetapi pujian kita tidak akan bertahan usang alasannya adalah yang kita kejar hanyalah kuantitas. Mutu pendidikan kita pun diukur dari segi kuantitasnya. Padahal, kuantitas adalah sebuah postulat matematis yang tak berbentuk dan gampang dimanipulasi.

Sangat tidak selaras beserta negara-negara Eropa yang justru mengejar kualitas. Orientasi ini memungkinkan mereka punya daya dorong yang tinggi untuk berkreasi dan berinovasi. Mereka akhirnya menemukan poly hal dan memproduksi poly teori. Indonesia hanya mampu menghafal rumus untuk diuji dan permanen jadi negara konsumtif. Selain itu, pendidikan kita pun terbelenggu beserta politik uang.

Kalau forum pendidikan dibelenggu politik uang, hanya orang kaya yang punya akses. Pemerintah berdalih, Kesempatan terbuka untuk semua orang. Semua orang diberi kemungkinan mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. Ini betul, tetapi standar yang dipakai menjadi kondisi dan pembiayaannya tidak membuka kemungkinan untuk orang miskin. Jadi, ketidakadilannya terletak bukan pada kesempatan, melainkan pada standar, sistem, dan kondisi yang dipakai. Kalau telah demikian, pendidikan akhirnya hanya berfungsi melayani kepentingan masyarakat mayoritas dalam rangka mempertahankan dan memproduksi status quo.

Mengapa pendidikan kita tidak berangkat dari empiris masyarakat yang sebagian akbar adalah miskin? Berbagai dalih mampu diberikan. Namun mampu dikatakan, tidak adanya kontekstualisasi pendidikan pada Indonesia itu alasannya adalah ketidaktulusan dalam mengelola pendidikan. Episteme pendidikan kita masih berorientasi pada bidang ekonomi.

Kemiskinan menjadi kenyataan yang menghalangi orang- orang miskin mengambil bagian dalam kesempatan yang sebenarnya terdapat, termasuk kesempatan memperoleh pendidikan, ditimbulkan ketimpangan struktur institusional dalam masyarakat. Sistem pendidikan terkini menjadi galat satu faktor institusional terpenting ikut mencerminkan ketimpangan struktur masyarakat dan sekaligus melestarikannya, istilah J Muller (Prisma, 1980).

Pedagog dari Jerman, FW Foester (1869-1966), begitu populer alasannya adalah dialah yang mencetuskan pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual. Tujuan pendidikan bagi Foester adalah pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek beserta konduite hayati yang dimilikinya. Bagi Foester, karakter adalah sesuatu yang mengualifikasi seseorang eksklusif. Karakter jadi karakteristik-karakteristik yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Dari kematangan karakter inilah kualitas eksklusif diukur.

Guna mendukung pemahamannya tentang pendidikan ini, Foester menyebutkan empat karakteristik dasar dari pendidikan karakter. Pertama, keteraturan interior pada mana setiap tindakan diukur sinkron hierarki nilai. Nilai menjadi panduan normatif dari setiap tindakan.

Kedua, koherensi yang memberi keberanian, menciptakan seseorang teguh pada prinsip. Sikap ini adalah sebuah keutamaan (cardinal virtue) yang butuh pengolahan yang tidak singkat.

Ketiga, swatantra. Pada buah ini seseorang mengiternalisasikan anggaran dari luar hingga jadi nilai-nilai bagi eksklusif. Orang yang mencapai buah tiga ini adalah orang-orang yang prinsipil.

Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Pada buah ini orang akan mencapai komitmen dan mempertahankannya alasannya adalah dipercaya baik. Orang bahkan rela berkorban demi komitmen yang mulia itu.

Peran pengajar dan siswa

Pertanyaan timbul lagi: bagaimana kita mampu mendesain pendidikan kita agar idealisme Foester mampu tercapai? Jawabannya sederhana saja: maksimalkanlah kiprah pengajar dan siswa.

Bukan adalah kesan lagi bahwa terpuruknya pendidikan pada Indonesia ini alasannya adalah tidak terdapat yang mau kerja aporisma. Mental cari gampang dan instan tampaknya telah menjadi kultur dalam global pendidikan kita. Akibatnya, manipulasi terjadi pada mana-mana, bahkan titel pun mampu dibeli. Lemahnya sistem pendidikan kita yang ditimbulkan rendahnya kebijakan politik pemerintah menempatkan Indonesia menjadi negara yang sistem pendidikannya terburuk dari 12 negara pada Asia (The Economics Risk Consultancy).

Mengapa sine qua non tunjangan profesi pengajar? Mitos pada pergitunjangan profesi pengajar ini adalah semakin memajukan mutu pendidikan. Benarkah? Saya menyangsikan! Ada logika tertutup yang menjangkit pemerintah kita, yakni bahwa mutu pendidikan berdasarkanserta dipengaruhi oleh imbalan tambahan bagi gerombolan pengajar tertentu.

Dengan demikian, sebenarnya pada dirinya sendiri tunjangan profesi pengajar melahirkan ketidakadilan. Karena melahirkan ketidakadilan, acara tunjangan profesi pengajar pun patut dicurigai. Sertifikasi akan memicu poly sekali akrobatik, termasuk cara-cara yang tidak amanah guna memperebutkan tunjangan profesi kompetensi profesional pengajar yang menjanjikan imbalan akbar. Kalau telah demikian, masyarakat kita akan menjelma menjadi masyarakat berisiko (risk society).

Dalam ekonomis aku, pemerintah telah galat langkah beserta acara tunjangan profesi itu sendiri. Yang primer dalam pemugaran dan pengembangan mutu pendidikan kita terdapat pada pembenahan regulasi dan kapasitas pendukung lain, mirip budaya, bukan pada tunjangan profesi. Kapasitas budaya itu menyangkut mental seseorang yang pada dalamnya terkandung cara berpikir dan bertindak.

Terhadap acara tunjangan profesi pengajar ini, pedagog Foester akan menertawakan kita. Kebijakan pendidikan semacam ini jauh panggang dari barah. Kebijakan itu tidak menyentuh inti dari masalah itu sendiri, tetapi justru memperlebar ruang egoisme.

Foester mengusik nurani kita untuk sedapat mungkin memaksimalkan kinerja dan tanggung jawab. Bahwa mutu pendidikan kita hanya mampu tumbuh dan berkembang kalau terdapat ketulusan dalam memajukan karakter beserta empat tekanan mirip yang disebutkan itu. Jangan hingga pendidikan hanyalah sebuah dark force yang tidak merangsang perubahan habitus. Karena itu, pada tengah hiruk-pikuk dan terpuruknya global pendidikan, politik, sosial, dan bidang-bidang kehidupan lain, pendidikan karakter beserta menekankan dimensi etisreligius menjadi sangat relevan untuk diterapkan, apalagi dalam konteks Indonesia.

Dony Kleden Rohaniwan dan Alumnus Magister Antropologi UGM

0 Response to "Pendidikan Karakter"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel