Pak Jokowi, Pendidikan Tinggi juga Darurat!

Pak Jokowi, Pendidikan Tinggi juga Darurat!

Oleh: Dedy Permadi*

BERITA TERKAIT
Tak indahkan panggilan karena awasi ujian, pengajar dalam Bengkulu dibogem kepala sekolah
Guru dalam NTT terdapat yg bergaji Rp 50 ribu & Rp 300 ribu per bulan
UIN Yogyakarta akan mendata & membina mahasiswi bercadar

Negeri darurat: darurat infrastruktur, darurat listrik, darurat narkoba, darurat pertanian, & darurat-darurat lainnya. Entah apa yg memproduksi Indonesia begitu terlambat dalam poly hal. Memang nir mampu dipungkiri bahwa pemerintah sedang mencoba mengejar ketertinggalan itu beserta menetapkan sasaran-sasaran ambisius dalam beberapa bidang. Namun demikian, terdapat satu isu darurat yg sepertinya luput menurut perhatian Presiden menjadi akibatnya penanganannya nir 'segila' isu-isu dalam atas: darurat pendidikan tinggi!

Masalah terbesar hakikatnya artinya nir menyadari adanya dilema. Masalah makro dalam sistem pendidikan tinggi yg sangat berfokus nir terdapat ke bagian atas & memproduksi poly pemangku kepentingan merasa nir wajib berpikir ataupun bekerja ekstra. Kemenristekdikti, menjadi kementerian yg paling bertanggung jawab terhadap isu ini, semenjak awal terbentuk poly disibukkan beserta dilema penutupan kampus, legalitas ijazah, isu LGBT dalam kampus, & sebagainya. Isu-isu parsial yg skalanya mikro misalnya ini menjadi lebih terkenal buat dijadikan tontonan & perbincangan.

'Posisi Belakang' dalam Asia & Dunia

Aika dipandang dalam taraf Asia saja, peringkat universitas-universitas Indonesia masih sangat memprihatinkan. Sebagai citra, QS (galat satu forum pemeringkat kualitas universitas) tahun kemudian mengumumkan peringkat 300 akbar universitas terbaik dalam Asia &, sayangnya, hanya tujuh universitas Indonesia yg masuk dalam dalamnya. Dari pemeringkatan tadi, UI, ITB, UGM, Universitas Airlangga berturut-turut menempati peringkat ke 79, 122, 137, 147. Sedangkan 3 universitas lain berada dalam peringkat 150-300.

Bandingkan beserta negara-negara Asia Tenggara lain. Thailand menyumbang total 11 universitas yg masuk 300 akbar. 3 dalam antaranya masuk 100 akbar. Sedangkan Malaysia dapat menempatkan 21 universitas dalam jajaran 300 & lima dalam antaranya masuk dalam jajaran 100 akbar. Sedangkan Singapura berhasil mendongkrak posisinya dalam Asia beserta menempatkan NUS dalam posisi pertama & NTU dalam peringkat keempat (& kemudian naik ke posisi 2).

Di taraf internasional, posisi universitas-universitas Indonesia lebih memprihatinkan. Webometrics dalam tahun 2015 menempatkan UGM, UI, & ITB, berturut-turut dalam posisi 518, 660, & 704 global. Sedangkan dalam tahun ini, ketiganya secara berurutan berada dalam posisi 807, 763, & 801. Sedangkan pemeringkat lain, 4icu tahun ini memposisikan ITB, UGM, & UI berturut-turut dalam peringkat 202, 427, & 561 dalam tahun 2015 & peringkat 366, 460, 560 dalam tahun ini.

Aika dengan data QS menurut tahun 2012 hingga 2015, maka kita mampu melakukan proyeksi statistik sederhana buat memperkirakan peringkat 3 universitas tadi dalam tahun 2030. Tentu ini adalah perhitungan kasar & beserta catatan seluruh syarat terkait kontinu.

UI yg empat tahun terakhir menempati peringkat 273, 309, 310, & 358 dimungkinkan menempati posisi sekitar 735 dalam tahun 2030. UGM yg masuk kategori peringkat 401-450; 501-550; 551-600 & 551-600 menurut tahun 2012 hingga 2015 mungkin saja merosot hingga keluar menurut 1300 akbar dalam tahun 2030. Sedangkan ITB memiliki musim yg cenderung lebih stabil; yakni peringkat 451-500; 461-470; 461-470; 431-440 selama empat tahun berturut-turut; menjadi akibatnya kemungkinan akan permanen dalam urutan yg sekitar sama dalam tahun 2030.

Butuh Bergegas & Berlari

Reformasi sistem yg diawali menurut visi yg ambisius; kepemimpinan progresif dalam seluruh lini; & penerapan konsep Triple Helix mampu menjadi 3 tenaga akbar buat mengejar ketertinggalan tadi. Hal ini yg wajib menjadi perhatian pemerintahan Jokowi-JK dikala ini.

Pertama, reformasi dalam skala makro. Langkah ini mampu dilakukan beserta perumusan visi pendidikan tinggi Indonesia yg lebih ambisius, riil, & terukur. Rasa-cita rasanya nir terlalu hiperbola buat memiliki sasaran mendongkrak 10 universitas Indonesia buat masuk 200 akbar global dalam waktu 20 tahun. Payung akbar ini secara otomatis akan menghipnotis reformasi dalam level mikro misalnya percepatan dalam bidang publikasi, penelitian, pedagogi, juga dedikasi kepada rakyat.

Kedua, pemilihan orang-orang progresif & visioner dalam posisi-posisi strategis dalam global pendidikan tinggi Indonesia. Posisi-posisi ini merujuk dalam posisi pucuk dalam level nasional hingga level universitas, fakultas, bahkan jurusan/departemen. Yang dimaksud orang-orang progresif dalam sini artinya orang-orang yg dapat berlari, nir hanya sekedar berjalan; orang-orang yg unggul dalam manajemen & taktik, nir hanya cerdas secara akademik.

Ketiga, konsep Triple Helix yg merujuk dalam upaya optimalisasi sinergi antara universitas, industri, & pemerintah niscaya dapat mendorong optimalisasi asal daya dalam seluruh lini. Keuntungan menurut konsep ini contohnya: semakin poly kebijakan yg diproduksi secara terukur beserta basis riset (research-based policy); efektifitas diseminasi dampak riset universitas karena eksklusif dimanfaatkan sang pemangku kebijakan; efisiensi luarbiasa dalam bidang keuangan & SDM karena pengulangan topik riset yg sama akan mampu ditekan secara signifikan; & sebagainya.

Secara normal, kita wajib bergegas buat melakukan penyelamatan apabila berada dalam situasi darurat. Aika sudah menyadari situasi darurat namun nir segera bergegas, artinya kita sudah mangkat rasa.

* Penulis artinya Dosen Departemen Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada/Visiting Fellow, Department of Politics and International Relations, University of Oxford [ian]

0 Response to "Pak Jokowi, Pendidikan Tinggi juga Darurat!"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel